Indonesia memiliki beragam budaya. Di dalamnya termasuk bahasa dan aksara. Data pada laman situs Laboratorium Kebinekaan  Bahasa dan Sastra pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), menunjukkan bahwa ada 718 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan hasil verifikasi berdasarkan penelitian dan pemetaan bahasa daerah yang dirintis sejak 1992 hingga 2019. (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/)

Unsur  di dalam bahasa daerah, di antaranya, adalah aksara. Saat ini terdapat dua belas aksara daerah yang merupakan bagian dari kekayaan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. Ke-12 aksara daerah tersebut adalah aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis atau Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci (rencong atau incung)(https://indonesia.go.id/).

Era globalisasi saat ini memunculkan bermacam teknologi modern. Di dalamnya penggunaan istilah-istilah cenderung mendominasi. Hal ini membuat generasi muda cenderung lebih akrab dengan istilah asing tersebut daripada istilah bahasa daerah mereka sendiri,  terlebih lagi aksara daerah. Untuk menghadapi situasi ini, beberapa pemerintah daerah berupaya untuk tetap melestarikan aksara daerahnya masing-masing. Upaya tersebut, misalnya, adalah membuat peraturan daerah mengenai penulisan aksara daerah pada papan nama jalan, nama tempat,  dan  nama lembaga atau menjadikannya sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah.

Baru-baru ini Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Jakarta, bekerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi Lampung dan Universitas Lampung dalam penyusunan katalog manuskrip Lampung. Ketiga Lembaga tersebut menandatangani perjanjian  kerja sama pada Rabu, 7 April 2021, di Hotel Swiss Bell, Bandarlampung. Sebanyak 82 manuskrip Lampung akan disusun menjadi katalog setelah melalui penelitian sejak 2009. Proses penyusunan katalog ditargetkan selesai dalam kurun waktu empat bulan (https://www.kompas.id/).

Ikatan Duta Bahasa Provinsi Lampung (Ikadubas Lampung) sebagai wadah perkumpulan pemuda yang memiliki kepedulian dan keinginan berkontribusi terhadap perkembangan literasi di Indonesia, terutama Provinsi Lampung, juga ikut berperan serta dalam melakukan pelestarian aksara Lampung. Salah satu wujud nyatanya adalah dengan membuat sebuah buku pembelajaran aksara Lampung bagi anak usia prasekolah. Buku tersebut bernama Belalai (Belajar Aksara Lampung Asyik).

Ide membuat buku tersebut berawal dari keprihatinan Ikadubas Lampung akan  minimnya   kesadaran masyarakat dalam melestarikan aksara Lampung. Pada tahun 2019 Julian Nursatria, Ketua Ikadubas Lampung, menginisiasi pembuatan buku Belalai. Dalam proses pembuatannya, Julian bekerja sama dengan Gitamorezqi Maharani dan Tanzirul Efendi. Mereka adalah PemenangVI Duta Bahasa Nasional 2019. Mereka mendapat pendampingan dari Parias, pembina Ikadubas Lampung. Dalam kurun waktu tiga bulan, mereka berhasil menyelesaikan buku Belalai

Buku ini dibuat untuk membantu para guru dan orang tua dalam mengajarkan aksara Lampung kepada anak usia prasekolah, yaitu anak yang berumur antara 3–6 tahun. Pada masa ini, biasanya anak-anak senang berimajinasi. Mereka percaya bahwa mereka memiliki kekuatan. Pada usia tersebut, anak-anak membangun kontrol sistem tubuh, seperti kemampuan pergi ke toilet, berpakaian, dan makan sendiri (Potts &Mandeleco, 2012). Pada usia ini juga anak-anak mengalami perkembangan bahasa yang semakin baik. Mereka mampu memahami pembicaraan orang lain dan mengungkapkan pikiran mereka. Perkembangan kognitif  atau daya pikir mereka juga sangat pesat. Hal ini terlihat pada rasa keingintahuan mereka terhadap lingkungan sekitar. Mereka akan sering bertanya tentang apa yang mereka lihat. Oleh sebab itu, Ikadubas Lampung mendedikasikan buku tersebut untuk kanak-anak dengan kategori usia tersebut. Ikadubas berharap bahwa dengan buku tersebut anak-anak dapat belajar tentang aksara Lampung dengan lebih mudah.

Di buku Belalai, anak-anak dapat mewarnai benda-benda dan hewan yang sudah sangat mereka kenal, bahkan mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Nama-nama benda yang akan mereka warnai ditulis dalam  bahasa Lampung. Selain itu, nama benda juga dituliskan dalam aksara Lampung. Anak-anak diminta untuk menuliskan kembali aksara tersebut dengan mengikuti garis putus-putus. Dengan demikian, di dalam buku tersebut terdapat dua aktivitas, yakni mewarnai dan menulis dengan mengikuti garis putus-putus. Kedua hal tersebut diharapkan mampu merangsang motorik anak untuk meningkatkan kreativitas mereka serta mengenalkan aksara Lampung sejak dini pada anak usia prasekolah.

Ikadubas Lampung telah memperkenalkan buku Belalai kepada masyarakat dengan bersosialisasi secara langsung ke beberapa TK di Lampung. Saat ini, Ikadubas juga telah membuat buku tersebut dalam bentuk aplikasi permainan. Aplikasi tersebut bernama aplikasi “Belalai”. 

Ikadubas Lampung akan terus mengembangkan dan menyempurnakan buku Belalai, misalnya meningkatkan  kualitas buku serta menambah fitur edukasi. Mereka berharap bahwa melalui buku ini, masyarakat Lampung akan semakin sadar untuk ikut terlibat dalam upaya pelestarian aksara daerah. Harapan lainnya adalah bahwa buku Belalai dapat menginspirasi generasi muda untuk berkreasi dan menciptakan karya-karya lain demi mendukung upaya pemerintah dalam melestarikan aksara daerah, terutama aksara Lampung. Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *