Ratih Rahayu

Negara memiliki kewajiban untuk melindungi kekayaan bahasa dan sastra daerah yang ada di Nusantara. Kewajiban negara tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 45 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Selain itu, tercantum pula dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. 

Untuk melaksanakan amanat UU dan peraturan perundang-undangan tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) melakukan berbagai upaya pelindungan, mulai dari pemetaan, kajian vitalitas, konservasi, revitalisasi, hingga membuat registrasi. Tugas tersebut secara teknis dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan (Pusbanglin) BPPB yang bersinergi dengan balai dan kantor bahasa sebagai UPT-nya di daerah. 

Penelitian terhadap aneka jenis karya sastra yang berbahasa daerah telah banyak dilakukan oleh peneliti BPPB. Penelitian sastra yang dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia ini mengangkat aneka objek sastra dari berbagai daerah, seperti sastra lisan (baik berupa puisi, prosa, maupun drama), sastra tulis (manuskrip/naskah), serta sastra cetak. 

Pada kurun waktu 1975—1998 saja, penelitian yang sudah terdata sebanyak 464 judul. Jika dirunut hingga tahun 2020, jumlahnya tentu bisa dua atau tiga kali lipat. Dari hasil penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa sastra di Nusantara tidak hanya kaya dari segi jenis, bentuk, dan genre, tetapi juga memiliki kebinekaan dalam gaya ungkap, tema, motif, hingga latar historis, sosial, politik, dan budaya. 

Masyarakat Indonesia mungkin mengenal legenda, mitos, epos, dongeng, tambo, pantun, gurindam, hikayat, syair, macapat, karungut, mamanda, dan geguritan. Semua kekayaan sastra daerah tersebut menjadi harta karun yang “sayang” bila diabaikan. 

Khazanah kekayaan sastra daerah tersebut saat ini berhadapan dengan perubahan zaman sehingga harus diselamatkan. Satu di antara berbagai upaya penyelamatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan konservasi/pelindungan. Konservasi sastra dapat dilakukan melalui lima aktivitas, yaitu kajian pemetaan sastra, kajian vitalitas sastra, konservasi sastra lisan, konservasi naskah/manuskrip, dan konservasi sastra cetak.

Pemetaan sastra merupakan tahap pertama dari kegiatan konservasi sastra. Melalui kegiatan ini dilakukan pengumpulan khazanah sastra daerah yang tersebar di Nusantara. Menggali dan memetakan serpihan sastra yang tersimpan di berbagai daerah bukanlah suatu hal yang mudah. Melakukan kegiatan ini memerlukan ketelitian dan kecermatan. Pemetaan sastra di Indonesia menjadi suatu usaha yang harus dilakukan secara serius guna menyelamatkan kekayaan budaya bangsa. Hasil penelitian pemetaan sastra diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan tindakan pelindungan sastra yang lebih sistematis dan efektif. 

Dengan adanya gambaran bentuk dan jenis sastra beserta deskripsi persebaran wilayah hasil pemetaan sastra, kajian vitalitas dapat diprioritaskan pada bentuk-bentuk sastra yang perlu segera dikaji daya hidupnya atau vitalitasnya. Jika hasil pemetaan dan vitalitas suatu jenis karya menunjukkan kekritisan karena sistem pewarisan yang tidak berlangsung baik dan dukungan komunitasnya sangat rendah, dapat diduga bahwa sastra tersebut berada dalam kondisi terancam punah. Itulah sebabnya dinyatakan bahwa tindakan atau aksi yang dapat dilakukan (konservasi atau revitalisasi) sangat bergantung pada kajian pemetaan dan kajian vitalitas. 

Pemetaan sastra juga dapat ditempatkan sebagai tindakan konservasi karena hasil penelitian pemetaan sastra adalah deskripsi dan analisis karya sastra, baik berupa sastra lisan, manuskrip, maupun sastra cetak. Hal itu didasari prinsip kerja penelitian pemetaan sastra yang juga menghasilkan produk pendokumentasian. Jika aspek pengolahan dan pendeskripsian sastra lisan dan keterkaitannya dengan konteks sosial dan budaya masyarakat pengguna sastra lisan telah dipenuhi, pemetaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari tindakan/aksi konservasi sastra.

Kajian vitalitas adalah langkah kedua setelah pemetaan sastra. Kajian vitalitas sastra bertujuan untuk mengetahui status suatu karya sastra, pewarisan, serta dukungan komunitasnya. Berdasarkan hasil kajian vitalitas dapat diketahui apakah sebuah karya sastra masuk kategori aman, rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, kritis, atau punah. Setelah dilakukan kajian vitalitas, akan dihasilkan peta dan status sastra daerah.

Konservasi sastra lisan adalah pendokumentasian sastra tutur yang memiliki sistem pewarisan dan dukungan dari komunitas atau kelompok masyarakat tertentu. Prioritas sastra lisan yang dikonservasi adalah yang berstatus aman, sedangkan yang harus direvitalisasi adalah yang berstatus rentan, mundur, terancam punah, dan kritis.

Salah satu jenis sastra lisan yang dapat dikonservasi adalah manuskrip. Kegiatan konservasi manuskrip adalah pelestarian dokumen dalam bentuk tulisan tangan dengan media kertas, daun lontar, kulit kayu, bambu, atau tulang dan tanduk binatang. Dokumen yang dikonservasi harus memiliki syarat belum pernah dicetak dan/atau dijadikan buku dan sudah berumur minimal 50 tahun. Manuskrip yang dikonservasi ditujukan pada dokumen yang berisi karya sastra dengan beragam genrenya (prosa, puisi, atau drama), sejarah, surat-surat berharga bernilai pendidikan atau  budaya, obat dan pengobatannya, silsilah keluarga kerajaan atau kelompok etnis tertentu, hukum, atau aturan keagamaan. Konservasi manuskrip dilakukan dalam bentuk kegiatan digitalisasi, deskripsi, transliterasi, dan katalogisasi.

Selain konservasi manuskrip, kegiatan konservasi lain yang dapat dilakukan adalah konservasi sastra cetak. Konservasi sastra cetak adalah pendokumentasian karya sastra yang dicetak secara masif dengan menggunakan mesin cetak (masinal). Karya yang perlu dikonservasi adalah karya sastra terbitan lima puluh tahun yang lalu atau lebih. Selain itu, karya tersebut juga harus merupakan karya asli (bukan saduran atau terjemahan), tidak dibedakan dalam sastra serius atau sastra pop, dan diutamakan ditulis dalam bahasa daerah setempat. Yang tidak kalah penting adalah dicantumkannya nama pengarang dalam karya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *