• Yohana Shera

 

Pernikahan merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu, baik bagi calon pengantin maupun keluarga besar. Pasalnya, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua keluarga. Dalam adat Jawa, pernikahan dianggap sebagai kegiatan agung dan sakral sehingga melalui proses yang cukup panjang. Proses pernikahan ini dibagi menjadi dua, yaitu prosesi hajatan dan prosesi puncak. 

Prosesi hajatan dilaksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan prosesi puncak. Pada prosesi hajatan terdapat sembilan tahapan, yaitu pasang tratag dan tarub, kembar mayang, pasang tuwuhan, siraman, dodol dawet, potong tumpeng, dulangan pungkasan, tanam rambut dan lepas ayam, dan midodareni. Sementaraitu, prosesi puncak dilaksanakan pada hari pernikahan yang terdiri atas upacara pernikahan untuk meresmikan pernikahan secara agama dan negara serta upacara panggih yang biasanya dilakukan sebelum acara resepsi atau syukuran dimulai.

Dalam pernikahan adat Jawa, panggih merupakan puncak dari seluruh rangkaian pernikahan. Kata panggih atau dhaup berarti ‘temu’ dalam bahasa Indonesia. Dalam prosesi pernikahan Jawa, upacara panggih adalah pertemuan antara pengantin pria dan wanita sebagai suami istri setelah sah menikah secara agama. Dalam upacara panggih pun terdapat rangkaian acara yang bertujuan untuk memberi doa, baik kepada kedua pengantin dan memantapkan mereka dalam membina rumah tangga.

Orang tua pengantin pria tidak diperkenankan ikut dalam upacara panggih. Dari keluarga pria, yang boleh ikut hanyalah pengiring dan pendamping pengantin pria yang merupakan keluarga terdekat dari orangtua pengantin pria. Pengiring dan pendamping ini berada di samping kanan dan kiri pengantin pria. Keduanya harus lebih tua daripada pengantin dan bukan duda. 

Di depan rombongan pengantin pria terdapat pembawa sanggan. Sanggan adalah bokor berkaki sebagai simbolisasi untuk menebus pengantin putri yang berisi dua sisir pisang raja, sirih ayu, kembang telon (mawar, melati, kenanga), dan benang lawai dalam satu keranjang. Itulah mengapa prosesi ini disebut dengan sanggan tebusan pengantin putri.

Selanjutnya, pengantin pria dan pengantin putri akan dipertemukan secara berhadap-hadapan yang diatur dengan jarak. Mereka akan melakukan prosesi balangan gantal atau ‘melempar gantal. Gantal adalah daun sirih yang dilinting dengan isian bunga pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam. Pengantin pria akan melemparkan gantal ke dada pengantin wanita sebagai tanda ia telah memiliki hati sang kekasih. Setelah itu, pengantin wanita akan melemparkan gantal ke arah lutut sang pria sebagai tanda baktinya kepada sang suami. Prosesi ini cukup menarik karena gantal yang dilempar harus tepat sasaran.

Prosesi balangan gantal

Prosesi yang berikutnya adalah ngidak tagan/nincak endog yang artinya ‘menginjak telur’. Sesuai dengan artinya, pengantin pria akan menginjak sebuah telur ayam mentah hingga pecah sebagai harapan agar mereka diberi keturunan. Setelah itu, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria untuk memperlihatkan wujud bakti dan rasa kasih sayangnya.

Kemudian, kedua mempelai akan berdiri bersebelahan sambil berpegangan jari kelingking. Pada prosesi ini, kedua bahu pengantin dibalut dengan kain sindur oleh ibu pengantin wanita dan diantar ke pelaminan oleh ayah pengantin wanita. Prosesi yang disebut dengan sinduran ini memiliki makna bahwa ibu memberi semangat dan ayah menunjukkan semangat dalam menjalani hidup yang baik. 

Berikutnya adalah prosesi bobot timbang. Pada ritual ini, sang ayah akan memangku kedua pengantin di kursi pelaminan. Sang ibu akan bertanya siapakah yang paling berat dan ayah akan menjawab bahwa kedua pengantin sama beratnya. Ini sebagai tanda bahwa kasih sayang ayah dan ibu kepada kedua pengantin adalah sama bobotnya. Harapannya, kedua pengantin memahami bahwa tidak ada perbedaan kasih sayang dari orangtua kepada mereka.

Upacara dulangan menggambarkan kerukunan antara suami istri dalam keluarga yang dilakukan dengan saling menyuapi antara kedua pengantin. Dalam bahasa Jawa, kata dulang berarti ‘suap’. Sebelum menyuapi, pengantin pria akan membuat tiga kepal nasi kuning yang diletakkan di atas piring yang dipegang oleh pengantin pria.

Prosesi selanjutnya adalah minum rujak degan yang terbuat dari serutan kelapa muda. Pertama-tama ayah akan meminum air kelapa yang kemudian dilanjutkan oleh sang ibu dan kedua pengantin. Air kelapa ini dilambangkan sebagai air suci yang akan membersihkan jiwa dan rohani keluarga. Setelah selesai, pengantin pria akan mengucurkan uang logam, beras, dan biji-bijian kepada pengantin perempuan sebagai tanda bahwa ia akan bertanggung jawab kepada keluarganya kelak. Prosesi ini disebut dengan kacar-kucur.

Setelah itu, orang tua dari pengantin pria akan dipersilakan masuk. Upacara panggih pun akan sampai pada prosesi yang terakhir, yakni sungkeman. Kata sungkem memiliki arti ‘sujud sebagai tanda hormat’. Dalam adat Jawa, sungkeman merupakan tindakan yang sangat penting karena memperlihatkan wujud bakti dan hormat seorang anak kepada orang tua. Pada upacara panggih, kedua pengantin mengucapkan rasa terima kasih kepada orang tua karena telah membesarkan mereka, memohon maaf atas kesalahan yang pernah mereka lakukan, dan memohon restu untuk menjalani kehidupan baru bersama pasangannya.

Prosesi sungkeman, tradisi penting dalam adat Jawa

Upacara panggih dalam pernikahan adat Jawa ini memang sarat dengan makna dan doa baik. Bagi pengantin, rangkaian upacara panggih ini tentu akan membekali mereka dengan semangat membangun rumah tangga yang baik. Menilik seluruh rangkaian upacara panggih ini membuat kita menyadari betapa indahnya budaya Indonesia. Melestarikannya adalah tugas kita bersama sebagai rakyat Indonesia.

 

*dari berbagai sumber

Sumber foto: https://www.bridestory.com/id/blog/panduan-rangkaian-prosesi-pernikahan-adat-jawa-beserta-makna-di-balik-setiap-ritualnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *