Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL) terus menunjukkan kesungguhannya dalam menjaga dan meletarikan bahasa Lampung. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya kamus dwi bahasa Lampung-Indonesia dalam dua versi, yakni cetak dan daring. Pembuktian KBPL sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), Kemendikbud, dalam menjaga dan melestarikan bahasa Lampung. diwujudkan dalam acara ”Peluncuran Kamus Dwi Bahasa Lampung-Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 18 Februari 2021 di Hotel Horisson, Bandarlampung.

Kamus Dwi Bahasa Lampung–Indonesia diluncurkan oleh Wakil Gubernur Provinsi Lampung, Chusnunia Chalim, S.H., M.Si., M.Kn., Ph.D., secara daring melalui ruang pertemuan virtual Zoom. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala KBPL, Dr. Eva Krisna, budayawan Lampung, Nasrun Rakai, S.H., dan para tokoh adat Lampung.

Kepala KBPL, Dr. Eva Krisna menjelaskan bahwa Kamus Lampung–Indonesia merupakan edisi revisi dari kamus yang diterbitkan pada 2009. Dalam kamus edisi kedua ini, tim penyusun menghimpun 5.827 kata dalam bahasa Lampung yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. 

“Ada sekitar 2.000 kosakata baru yang ditambahkan ke dalam kamus tersebut. Selain meluncurkan versi cetak, untuk memperluas keterbacaan, KBPL juga meluncurkan Kamus Lampung–Indonesia versi daring. Saat ini, kamus bahasa Lampung versi digital dapat diakses melalui website www.kantorbahasalampung.kemdikbud.go.id. Dalam waktu dekat, aplikasi kamus digital itu juga dapat diunduh pada gawai melalui Play Store, jelas Dr. Eva Krisna.

Dalam acara tersebut, Wakil Gubernur Lampung yang akrab disapa Bu Nunik menjelaskan bahwa bahasa Lampung tidak hanya sekadar bahasa ibu. Lebih dari itu, bahasa Lampung merupakan identitas dan kekayaan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan penggunaannya. “Tentu kita tidak ingin bahasa yang kita cintai ini akan punah. Oleh karena itu, semua masyarakat Lampung seharusnya menyadari betapa penting dan berharganya bahasa yang kita miliki ini,” ujar beliau.

Bu Nunik menuturkan bahwa Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap 21 Febuari ini dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali bahasa Lampung. Beliau pun menegaskan bahwa penerbitan Kamus Bahasa Lampung-Indonesia yang dilakukan oleh KBPL menjadi angin segar dalam upaya melestarikan bahasa Lampung.

“Saya sendiri sebagai orang tua yang punya anak berusia sekolah merasa memiliki keterbatasan. Kalau semangat ingin melestarikan bahasa Lampung tentu ada. Namun, karena keterbatasan saya yang tidak cakap berbahasa Lampung, sebagai orang tua, hal ini menjadi persoalan,” jelasnya.

Bu Nunik menilai, kamus ini menjadi salah satu pendukung agar seluruh generasi yang lahir di Lampung, di kemudian hari  mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah, terutama bahasa Lampung dengan baik dan benar. 

“Pemerintah Provinsi Lampung mendukung peluncuran Kamus Lampung-Indonesia ini. Terima kasih pada KBPL yang telah berperan dalam melestarikan bahasa Lampung melalui penyediaan kamus cetak dan digital ini,” ujar Bu Nunik.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPPB, Prof. E. Aminudin Aziz menjelaskan bahwa penyusunan kamus dalam bahasa daerah Lampung-Indonesia merupakan sebuah ikhtiar untuk melestarikan dan mempertahankan bahasa daerah. Terkait dengan hakikat kamus, lanjutnya, merupakan sebuah hasil kreatif. Kalau bicara proses kreatif maka bicara literasi. Kreativitas merupakan nilai tinggi dari keliterasian.

“Peluncuran kamus ini dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional. Peluncuran kamus ini menandai sebuah lompatan dari KBPL. Kalau bicara sebuah karya, ini bukan karya yang bersifat jalan pintas, tapi sudah dipikirkan bagaimana karya itu bisa langgeng,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Kepala BPPB pun menyampaikan lima indikator keberhasilan sebuah pelestarian bahasa dan sastra daerah, yaitu pertama, berapa penggunaan bahasa daerah dalam masyarakat. Kedua, berapa banyak bahasa daerah di Indonesia yang dijadikan muatan lokal di sekolah-sekolah. Ketiga, berapa banyak ketersediaan guru yang mengajarkan muatan lokal. Keempat, berapa banyak publikasi dalam bahasa daerah mulai dari koran, majalah, bulletin dan termasuk kamus ini. Kelima, berapa banyak program yang diinisiasi masyarakat seperti radio, YouTube, dan lainnya. Pihaknya berharap adanya dukungan dalam melestarikan bahasa daerah, mulai dari pemerintah daerah, budayawan, dan pihak lainnya. 

Kepala BPPB mengungkapkan bahwa kehadiran para peserta ”Peluncuran Kamus Dwi Bahasa Lampung-Indonesia” yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menjadi bukti dukungan yang nyata dalam melestarikan bahasa daerah. 

Sahabat Bastra, semoga upaya KBPL melestarikan bahasa Lampung mendapat dukungan dari berbagai pihak agar bahasa Lampung letap lestari dan tidak punah. Tabik. (SN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *