Oleh Diah Meutia Harum

 

Sahabat Kelasa, Rubrik “Sastra Lama” dalam edisi ini akan membincangkan kisah Panji. Kisah ini berasal dari sekitar abad ke-13 dan menandai perkembangan sastra kebudayaan Jawa yang sebelumnya dipengaruhi oleh kebudayaan India. Kisah Panji berlatar kerajaan Jawa, yaitu Kuripan, dan Daha. Di dalamnya terdapat kisah pencarian Panji terhadap kekasihnya, Candra Kirana. Kisah ini berisi selingan berbagai petualangan Panji dalam melakukan penyamaran dengan menggunakan berbagai nama yang berbeda sampai akhirnya Panji dan Candra Kirana bersatu kembali. 

Pada masa kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-15, kisah Panji sangat terkenal. Sosoknya terukir di relief candi. Di relief tersebut, Panji memakai topi khas Jawa. Dongeng Panji bahkan menjadi pertunjukan yang selalu dinanti-nantikan dalam acara “Wayang Gedog”. 

Kisah Panji juga terdapat dalam manuskrip Jawa. British Library  bahkan menyimpan delapan manuskrip Jawa tentang kisah Panji dan manuskrip itu tercantum dalam katalog Ricklefs & Voorhoeve, di antaranya “Panji Kuda Waneng Pati” (Add. 12319), “Serat Panji Kuda Narawongsa” (Add.12333), “Serat Panji Murdaningkung” (Add. 12345), “Panji Angreni” (MSS Jav 17) dan “Panji Jaya Kusuma” (MSS Jav 68).

Kisah Panji tidak  hanya terdapat dalam sastra Jawa, tetapi juga sastra Bali, Melayu, dan daratan Asia Tenggara,  yakni versi Thailand, Laos, Khmer, dan Burma. Dalam cerita versi di luar Nusantara tersebut, nama Panji adalah Inao.  Nama itu, dalam bahasa Jawa, disebut sebagai Raden Inu Kartapati. 

Kisah Panji pada awal abad ke-15 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sehingga pengaruhnya terlihat dalam teks “Sejarah Melayu” dan “Hikayat Hang Tuah”. Kisah Panji pun terdapat dalam banyak manuskrip yang berbahasa Melayu yang berasal dari negara bagian Kelantan dan Kedah di Semenanjung Utara, Malaysia. Di tempat tersebut pertunjukan wayang kulit sangat terkenal dan kisah yang dibawakan sebagian besar adalah  kisah Panji.

Sketsa Panji dengan ciri khasnya, yakni mengenakan topi bundar, ditemukan dalam naskah Melayu “Hikayat Dewa Mandu” yang disalin di Semarang, 1785. Naskah itu tersimpan di British Library dengan nomor panggil Add. 12376, f. 219r. Perpustakaan tersebut menyimpan sepuluh manuskrip Melayu yang berisi kisah Panji atau dongeng yang berkaitan dengan kisah tersebut dan telah didigitalisasi (https://blogs.bl.uk/asian-and-african/2015/06/panji-stories-in-malay.html). Manuskrip dongeng yang berbahasa Melayu tersebut adalah “Hikayat Cekel Waneng Pati” dengan nomor panggil MSS Bahasa Melayu C 1. 

Dalam kisah “Cekel Waneng Pati” dikisahkan bahwa Panji menjalani banyak cobaan untuk mendapatkan kembali cinta Raden Galuh Candra Kirana. Dikisahkan bahwa Panji menangkap rusa yang bertanduk emas, memecahkan teka-teki, menyembuhkan penyakit Candra Kirana, dan mengalahkan penjahat yang berjanggut hitam. Dikisahkan pula bahwa Panji mengalami sakit dan kemudian disembuhkan oleh putranya, Mesa Tandraman, yang memperoleh sekuntum bunga darah surgawi dari dada bidadari. Panji juga memenangi berbagai pertempuran hingga akhirnya hidup bahagia selamanya.

British Library juga menyimpan salinan lain “Hikayat Cekel Waneng Pati” dari tahun 1787, yaitu MSS Malay C 2 11365. Kemungkinan salinan lain hikayat tersebut ditulis di kertas Jawa yang berbahan dluwang dan diperoleh dari Kelantan.  Selain itu, ada naskah “Hikayat Mesa Tandraman” dengan nomor panggil MSS Malay C 3 yang berkisah tentang putra Panji. Naskah itu disalin di Penang oleh Ibrahim untuk Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1806. Ada juga naskah yang berjudul “Syair Mesa Gumitar” yang bernomor panggil 12380. Naskah tersebut berkisah tentang seorang Raja Kuripan. Kisah ini masih berkaitan dengan kisah Panji. Naskah lainnya adalah “Hikayat Carang Kulina” yang bernomor panggil 12383 serta “Hikayat Mesa Taman Sira Panji Jayeng Pati” yang ditulis di kertas Jawa dan bernomor naskah 12387. Ada juga naskah  “Hikayat Naya Kusuma” yang berkisah tentang tokoh bernama Mesa Susupan Sira Panji Kelana Asmara Pati. Naskah tersebut bernomor 12391. Sementara itu, ada juga naskah nomor 16446, sebuah kisah Panji yang kurang dikenal yang dimulai dari kisah Maharaja Jenggala. Naskah itu ditulis di kertas Jawa dalam bahasa Melayu yang bertulisan latin. Naskah lainnya adalah naskah 16447dst. 89v-91r, sebuah fragmen dari “Syair Ken Tambuhan” yang disalin di Taiping pada tahun 1888.

Banyaknya manuskrip yang ditemukan tersebut membuktikan adanya popularitas kisah Panji di dunia Melayu. Salah satunya adalah salinan “Hikayat Cekel Waneng Pati” yang ditulis oleh seorang juru tulis bernama Da’ut, kemungkinan di sekitar  Kedah, bertanggal 10 Zulhijah 1201 (23 September 1787). Di  atas bingkai teks pada halaman pembuka di sebelah kanan terdapat nasihat bagi para pembaca agar mereka tidak mempercayai isi cerita tersebut. Di halaman kiri terdapat komentar serupa yang ditujukan bagi pendengar. Ini menandakan bahwa dongeng tradisional Melayu bukan untuk dibaca dalam hati, tetapi dibacakan dengan keras kepada pendengar. Di halaman selanjutnya tertulis bahaya yang ditimbulkan oleh dongeng ini terhadap kepercayaan orang Islam. Di bagian atas setiap halaman kanan manuskrip tersebut termuat peringatan: “Maka hendaklah tuan yang membaca surat ini jangan menaruh iman di dalam hati karena semata-mata sekaliannya itu dusta belaka dan lagi / tuan2 akan kata pada sekalian yang menengar surat ini pada tiap2 halai tekan pada mereka itu, jangan beriman akan)”. British Library, MSS Malay C 2, ff. 1v-2r. 

Dalam satu halaman penuh manuskrip “Hikayat Cekel Waneng Pati” tertulis peringatan tentang pengaruh membaca dongeng terhadap iman: “Jangan sekali-sekali lupa akan Allah dan rasul-Nya pada tatkala membaca surat ini perkataan surat Jawa ini terlalu sangat dusta sekali oleh dicandakan orang yang menyurat yang bijaksana orang tetapi bukannya pada masa ini dahulu punya perbuatan maka orang sekarang sedikit2 dicandanya pulak jadilah perpanjanglah kata”. British Library, MSS Malay C 2, f. 5r.

Sahabat Kelasa, Kisah Panji dianggap sebagai kisah asli Jawa karena pada zaman itu pengaruh kebudayaan India melalui epos Ramayana dan Mahabharata sangatlah kuat. Kisah Panji menyebar melalui pertunjukan seni wayang dan tukang cerita memperdengarkannya. Alhasil, kisah Panji dapat kita temukan di daratan Asia Tenggara dengan bermacam versinya. 

**dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *