Oleh Renzi

Mursi atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Mamak Lawok adalah seorang seniman hahiwang, salah satu sastra lisan daerah yang berasal dari Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Mursi lahir di Way Suluh, Krui pada 5 Maret 1953, tetapi secara resmi tanggal lahirnya dicatat tanggal 5 Maret 1952. 

Mursi merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Ibunya bernama Murkiyah dan ayahnya yang bernama Marsudin yang keduanya bekerja sebagai petani. Kedua orang tuanya keturunan asli Lampung Pesisir dan masih terikat dalam hubungan keluarga kalangan adat Marga Sai Batin di Way Napal. Oleh sebab itu, Mursi mendapatkan turunan adok (gelar adat) dari ayahnya.

Pada saat Mursi sempat pindah ke Prabumulih, Sumatra Selatan, ia sering melantunkan hahiwang yang disimak oleh beberapa orang penonton. Orang-orang tersebut tertarik akan apa yang dilakukan oleh Mursi. Karena tidak tahu namanya, orang-orang itu memanggil Mursi dengan panggilan Mamak Lawok yang artinya ‘paman yang berasal dari laut’. Dari sinilah istilah Mamak Lawok berasal dan melekat menjadi panggilannya. 

Mursi pernah menikah sampai dengan 9 kali selama hidupnya. Dari kedelapan mantan istrinya itu, ia mendapat enam orang anak dan beberapa cucu. Istrinya yang terakhir adalah Suharti, seorang wanita keturunan Jawa-Sunda yang masih setia mendampinginya hingga saat ini. Mereka hanya tinggal berdua di Pekon Hanura Sumur Jaya, Kecamatan Krui Selatan, Pesisir Barat, Lampung.

Hahiwang secara etimologi berasal dari kata hiwang. Hiwang berarti tangisan sedangkan kata kerjanya miwang yang berarti menangis, dan diberikan imbuhan ha- menjadi Hahiwang yang berarti karya sastra yang menceritakan tentang kesedihan hidup seseorang atau kelompok. 

Cerita pengalaman Mursi ber-hahiwang dimulai ketika ia masih berusia 10 tahun. Saat masih kecil, Mursi sering ikut bersama neneknya menghadiri pertemuan rutin setiap sore dan juga pada malam Jumat. Dalam pertemuan itu biasanya orang-orang yang berkumpul membuat dan melantunkan hahiwang. Pada setiap minggu orang-orang itu secara bergilir membuat satu karya hahiwang dan melantunkan di depan semua yang hadir. 

Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda, semua kegiatan masyarakat dilarang sehingga gerak-gerik mereka terbatas. Namun, ada satu kegiatan yang diperbolehkan, yaitu kegiatan berkesenian. Oleh sebab itu, para wanita tua di Krui biasa berkumpul dan membuat syair-syair yang berisikan pesan-pesan moral dan juga sedikit menyelipkan pesan-pesan perjuangan melawan penjajahan. Mereka menyebutnya Bandung Sinderan, yaitu sejenis sastra yang berisikan sindiran-sindiran terhadap perlakuan Belanda kepada masyarakat yang sewenang-wenang. Pada perkembangannya, syair-syair itu kemudian menyampaikan pesan-pesan moral kehidupan dan juga berisi tentang kisah-kisah sedih dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena isinya tentang ungkapan-ungkapan kesedihan, mereka menyebutnya sebagai hahiwang. 

Karena Mursi sering mendengar wanita-wanita melantunkan hahiwang, ia pun tertarik dengan apa yang dilakukan oleh wanita-wanita itu. Akhirnya ia mulai serius belajar membuat dan melantunkan hahiwang. Mursi secara perlahan mulai membuat dan melantunkan karya hahiwang-nya sendiri. Tak lama kemudian ia mulai diminta untuk menampilkan karya-karyanya di berbagai tempat. 

Nama Mamak Lawok semakin dikenal ketika ia mulai diundang untuk melantunkan Hahiwang pada setiap minggu sore di salah satu radio swasta di Krui. Ia menggunakan nama Mamak Lawok sebagai nama panggungnya. Setelah itu, ia juga kemudian sering diundang untuk membacakan tetahan adok (pemberian gelar adat) pada masyarakat Sai Batin, acara-acara formal pemerintahan dan acara-acara festival budaya lainnya di Lampung.

Dalam proses pembuatan karya hahiwang, Mursi mempunyai cara tersendiri. Ia menyebutnya wat semakkung wat ‘ada sebelum ada’. Maksudnya adalah dalam proses pembuatan hahiwang, harusnya karya tersebut sudah dikonsep di dalam pikiran terlebih dahulu, baik dari pilihan katanya, tujuan, dan pesan yang akan disampaikan dalam karya hahiwang. 

Setelah itu, konsep yang ada dalam pikiran tersebut ditulis dan dirangkai sesuai dengan keinginan penulis. Misalnya, menentukan berapa jumlah lembar yang akan dibuat, isi dari hahiwang, dan semua hal di dalamnya. Setelah karya hahiwang itu diperkirakan sudah seperti yang diinginkan, kemudian masuk ke dalam proses akhir, yaitu proses pengetikan. 

Mursi biasanya mengetik karya-karyanya menggunakan mesin tik tua pemberian orang. Setelah itu, ia akan mengecek kembali setiap bagian karya yang akan dibacakan. Jika ada bagian yang salah maka akan memperbaikinya kembali. Karya-karya hahiwang Mursi sudah sangat banyak, yang cukup terkenal adalah karya Bintang Lunik, Darussalamah Qolbi, Dang Ngarusak Lingkungan, Harong Nunas, Ngahiman Keturunan.

Mursi menulis naskah hahiwang dengan cara membaginya dalam dua bagian, yaitu bagian kiri dan bagian kanan. Cara membacanya dari kiri ke kanan. Hal ini dianggap mempermudah dirinya ketika nanti karya itu dipentaskan. Karya yang dibuat oleh Mursi biasanya bergantung si pemesan karya. Karya yang pernah ia buat paling banyak sampai 20 lembar kertas ukuran F4. Dalam satu kertas terbagi menjadi 2 bagian, yaitu kiri dan kanan yang terdiri dari 56 baris. Apabila karya itu dilantunkan bisa memakan waktu sampai satu jam lebih. 

Secara umum, hahiwang itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pembuka, isi, dan bagian penutup. Pada bagian pembuka, biasanya dihadirkan kalimat-kalimat hahiwang yang sudah baku atau yang akrab di telinga masyarakat, seperti penyampaian salam, permohonan izin kepada yang lebih dituakan atau derajatnya lebih tinggi dibandingkan si pembaca, dan juga ungkapan-ungkapan lainnya sebagai bentuk penghargaan seperti berterima kasih sudah diberikan waktu untuk membacakan hahiwang

Pada bagian isi, tentu saja isi dari hahiwang tersebut sesuai dengan tema yang akan disampaikan. Pada bagian penutup isinya berupa permohonan maaf dan salam penutup. Menurutnya, seluruh isi hahiwang tentu saja mengandalkan kemampuan sang pembuatnya, semakin banyak referensi yang dimiliki semakin mudah dalam membuat hahiwang.

Pada awalnya, hahiwang adalah media penyampaian kisah sedih yang dialami seseorang atau kelompok yang dituangkan dalam karya sastra. Namun, dalam perkembangannya, karya hahiwang yang dibuat oleh Mursi juga menyesuaikan selera pemesannya atau penontonnya. Isi dari hahiwang itu sudah berubah fungsi, bukan lagi sebagai penyampai kisah sedih, tapi juga bisa memberikan pesan keagamaan, pesan moral, pelestarian lingkungan, dan sebagainya. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar hahiwang masih tetap bisa dinikmati oleh masyarakat banyak.

Belajar hahiwang tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat karena harus dilakukan secara rutin dan konsisten. Banyak orang datang untuk belajar hahiwang, tapi biasanya hanya datang untuk belajar satu atau dua kali saja. Bila hanya satu-dua kali saja, materi yang akan diberikan juga tidak sepenuhnya bisa diterima. 

Menurut Mursi, tingkat kesulitan hahiwang cukup tinggi. Oleh sebab itu, tidak banyak orang yang mau mendalami sastra lisan ini. Selain harus bisa berbahasa Lampung, seseorang juga harus mempunyai suara yang tinggi karena di beberapa bagian hahiwang mempunyai tingkatan nada yang tinggi dan nafas yang panjang.

Hahiwang jika dikategorikan ke dalam bentuk puisi lama hampir sama dengan jenis sastra Lampung lainnya. Yang membedakannya dari yang lain adalah dari nada atau suara pada saat melantunkannya. Dalam melantunkan hahiwang terdapat teknik khusus dalam setiap baitnya. Masing-masing nada yang digunakan naik turun sesuai dengan kemauan sang pembuat dan juga sesuai dengan lirik yang akan dilantunkan. Ciri khasnya adalah nada tinggi yang melengking dan sedih, yaitu mencerminkan hati seseorang yang sedang bersedih meratapi keadaan.

Mursi membagi bahasa Lampung menjadi, dua yaitu cawa dan basa Lampung. Cawa Lampung adalah bahasa Lampung yang digunakan oleh kalangan masyarakat biasa dalam kehidupan mereka sehari-hari dan tidak menggunakan tata bahasa formal, seperti percakapan di pasar dan kawasan nonformal lainnya. Sedangkan basa Lampung adalah tata bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam upacara-upacara adat dan pertemuan-pertemuan formal lainnya. Selebihnya yang membedakan hanyalah penggunaan penyebutan kata ganti orang terhadap yang dituakan, seperti dari anak kepada orang tua, murid kepada guru dan sebagainya. 

Kemampuan berbahasa Lampung Mamak Lawok yang sangat baik membuat proses pembuatan karya hahiwang menjadi lebih mudah. Bahasa yang digunakan di dalam pembuatan karya hahiwang seharusnya menggunakan basa Lampung. Menurutnya, hahiwang dan bahasa Lampung bagaikan dua sisi mata uang yang saling berkaitan. Jika seseorang tidak memahami bahasa Lampung dengan baik, otomatis tidak bisa membuat dan melantunkan hahiwang. 

Ia memiliki warisan tambo (kitab kulit kayu) yang menggunakan bahasa Lampung dialek Pesisir Krui dan menggunakan aksara Lampung kuno dari ibunya. Kitab kulit kayu tersebut masih disimpan sampai saat ini. Tambo ini berisi tentang bait-bait pantun yang kemungkinan besar merupakan karya hahiwang. Kitab kulit kayu ini biasanya dimiliki oleh para pemimpin adat, biasanya berisi tentang sejarah dan batas wilayah di lingkungan masyarakat Sai Batin. Ibunya berpesan kepadanya untuk tetap menjaga kitab ini agar masih bisa dilihat oleh generasi selanjutnya.

Mursi bertekad akan tetap melestarikan sastra lisan hahiwang sampai akhir hidupnya. Ia sering diundang untuk mengajar di berbagai institusi akademik, baik secara formal maupun nonformal untuk membagikan pengetahuannya seputar hahiwang. Mursi juga sering dijadikan narasumber dalam penelitian mengenai hahiwang oleh akademisi yang membahas masalah sastra lisan Lampung khususnya sastra lisan hahiwang.

Saat ini Mursi sudah sering sakit-sakitan karena faktor usia. Saat masih sehat, Mursi bekerja sebagai tukang bangunan dan buruh tani. Namun, setelah mengalami kecelakaan, ia tidak dapat bekerja berat lagi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mursi hanya bisa mengandalkan bantuan istrinya yang bekerja sebagai buruh tani. 

Sebelumnya mereka tinggal di Way Suluh, Krui Selatan. Namun, karena di daerah tersebut susah untuk mendapatkan pekerjaan, mereka pindah ke tempat yang sekarang di tengah hutan Desa Hanura Sumur Jaya. Akibat kecelakaan yang pernah dialaminya itu, Mursi mengalami sakit di bagian kaki, kurang pendengaran, dan juga mengalami sakit pada bagian tenggorokan yang menyebabkan ia tidak bisa lagi berbicara. Padahal, ia mengandalkan suaranya yang melengking untuk menampilkan pertunjukan sastra lisan hahiwang. 

Saat ini, Mursi tidak bisa lagi melantunkan hahiwang seperti dulu lagi. Di umur yang semakin tua, terkadang ia hanya mengandalkan bantuan dari orang lain yang iba melihat keadaannya. Walaupun dengan keadaan yang terbatas, ia tetap melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk tetap mempertahankan sastra lisan daerah khas Pesisir Barat ini dengan memberikan pemahaman dan semangat kepada para pemuda untuk tetap melestarikannya. Ia pun berangan-angan suatu saat nanti akan ada yang berkenan membangun pusat pelatihan hahiwang untuk generasi muda. 

Atas jasanya melestarikan hahiwang, ia diberi penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia oleh Kemendikbud pada tahun 2020 melalui Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan dengan kategori “Pelestari” sastra lisan hahiwang atas usulan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Barat. 

Wujud pelestarian yang ia lakukan selama ini berupa kegiatan membuat, melantunkan, dan mendokumentasikan karya-karyanya selama ini. Berbagai upaya yang dilakukannya itu membuat keberadaan hahiwang masih tetap eksis di kalangan masyarakat Lampung khususnya Pesisir Barat. Selain mendapatkan pin emas “Lesatan Garuda” dan juga piagam penghargaan, ia mendapatkan bantuan dana sebesar Rp50.000.000,00 dari Kemendikbud dan juga bantuan dana sebesar Rp100.000.000,00 dari Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. Dana tersebut digunakan untuk membangun tempat tinggal dan juga biaya berobatnya selama ini.

Sahabat Bastra, Mursi atau Mamak Lawok adalah tokoh yang patut kita teladani. Beliau adalah seorang yang sukarela menyumbangkan hidupnya untuk pelestarian kebudayaan daerah di bidang sastra lisan yang semakin mengkhawatirkan kondisinya. Mari kita dukung dan lanjutkan upaya yang telah dirintis Mursi agar sastra lisan hahiwang ini tidak punah ditelan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *